Photo story, Photography, Street Photography

Masih senang bermain?

Sewaktu kecil, saya tidak bermain sunda-manda (engklek). Sesekali bermain layangan, gobag sodor (yang konon di eropa sana bernama go-back-to-door), atau damdam-an.

Meski waktu bermain lebih banyak curi-curi karena seringkali harus tidur siang, kadang saya melompat keluar menyelinap dari jendela. Semua demi bermain bersama teman-teman.

Permainan-permainan tradisional yang dulu saya kenal, kini mungkin makin terlupakan; berganti playstation dan bermacam permainan digital lain.

Komunitas Anak Bawang, yang hampir selalu menggelar lapak tak jauh dari Loji Gandrung saat berlangsung hari bebas kendaraan bermotor (caf free day) di Jl Slamet Riyadi, kota Solo mungkin bisa menjadi oase bagi permainan tradisional.

Biarlah anak-anak kecil yang lalu-lalang di jalanan setiap minggu pagi melihat, penasaran, mencoba, dan bisa mengenangnya kelak dalam memori masa kecilnya. Sedikit banyak, seperti saya juga miliki. “Aku bermain, maka aku senang,” seru penggiat Komunitas Anak Bawang. @aliepodja

Advertisements
Standard
Demotix, Photography

Geliat tradisi modern

Indonesian Fashion Week (IFW) baru pertama kali diadakan tahun ini. Ratusan produk fashion anak negeri yang tidak kalah dengan produksi manca disajikan apik disini. Nama-nama yang sudah tenar di New York bahkan ikut serta berpameran. Jangankan sekedar kemeja batik, kombinasi bahan apapun dapat ditemukan disini.

Demotix | Indonesian Fashion Week 2012 – Jakarta

Persis di depan pintu masuk gedung pameran, saya tertarik dengan sajian kain tradisional nusa tenggara. Seorang mamak dengan asyik menenun benang; menjadikannya lembaran kain-kain berwarna yang menarik.

“Waktu tersingkat pembuatan kain sekitar satu bulan,” ujar Mamak lain yang mendampingi. Pantas bila kemudian produk-produk tradisional macam ini tergeus produksi pabrik konveksi besar yang volume produksinya selalu berlimpah setiap tahunnya. Belum lagi kearifan lokal yang seringkali diusik modernisasi.

Seperti pekan sebelumnya saat hadir dalam pembukaan festival film South to South, saya teringat perlawanan rakyat kecil yang berusaha mempertahankan hak mereka, meski tanpa senjata mematikan. Mereka patut diperhatikan lebih. Hasil tangan mereka tidak kalah menarik. Setiap tangan membuat karya dengan hati, bukan? @aliepodja

Standard