Photo story, Photography, Street Photography

Masih senang bermain?

Sewaktu kecil, saya tidak bermain sunda-manda (engklek). Sesekali bermain layangan, gobag sodor (yang konon di eropa sana bernama go-back-to-door), atau damdam-an.

Meski waktu bermain lebih banyak curi-curi karena seringkali harus tidur siang, kadang saya melompat keluar menyelinap dari jendela. Semua demi bermain bersama teman-teman.

Permainan-permainan tradisional yang dulu saya kenal, kini mungkin makin terlupakan; berganti playstation dan bermacam permainan digital lain.

Komunitas Anak Bawang, yang hampir selalu menggelar lapak tak jauh dari Loji Gandrung saat berlangsung hari bebas kendaraan bermotor (caf free day) di Jl Slamet Riyadi, kota Solo mungkin bisa menjadi oase bagi permainan tradisional.

Biarlah anak-anak kecil yang lalu-lalang di jalanan setiap minggu pagi melihat, penasaran, mencoba, dan bisa mengenangnya kelak dalam memori masa kecilnya. Sedikit banyak, seperti saya juga miliki. “Aku bermain, maka aku senang,” seru penggiat Komunitas Anak Bawang. @aliepodja

Advertisements
Standard
Photography

Berkah bangun pagi

Kamis malam saya di telepon petugas TMC Polda Metro Jaya (saya lupa bertanya namanya), mengabarkan salah satu foto yang saya ikutsetakan lomba foto lalu lintas via twitter @TMCPoldaMetro menjadi salah satu pemenang. Esok siang, hadiah akan dibagikan dalam sebuah seremoni ringan ujarnya sebelum menutup telepon.
Vitri, rekan pewarta Tempo yang mewakili saat seremoni mengabarkan; saya ‘hanya’ mendapat Juara Harapan III Kategori Sikap Aparat di lomba tersebut. Hadiahnya? Sebuah telepon seluler CDMA 😉 lumayan! Thanks ya, pak polisi..
Foto diatas diambil di kawasan Bundaran Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta saat berlangsung hari bebas kendaraan bermotor (car free day/CFD).
Sayangnya, kini agak malas bangun pagi di akhir pekan dan jalan-jalan santai CFD-an. Kapan lagi ya? @aliepodja
Standard