Catatan Paruh Waktu | Alie Poedjakusuma

Posts Tagged ‘Kompas

Kompas/JS

leave a comment »

Kompas/JS belong to Julian Sihombing; saya pertama kali bertemu bang Jul di Semarang saat roadshow Mata Hati, sebuah buku kumpulan foto jurnalistik harian Kompas. Saya yang masih mahasiswa mendekat saat rehat, Ia dan Eddy Hasby membakar rokok di luar gedung tempat acara berlangsung. Saya akhirnya justru berbincang dengan bang Eddy kala itu tentang bagaimana me-manage foto. But, he’s a humble man.

Setelah meninggal medio Oktober tahun lalu, saya jadi lebih tahu sosoknya di mata rekan-rekannya. Dari bagaimana Arbain Rambey harus menahan tangis saat bercerita tentangnya, di Kumpul Buku II beberapa waktu silam hingga saat buku ‘kedua’-nya diluncurkan, Selasa (15/1) malam di Galeri Antara.

Pengunjung pameran melihat foto ikonik Julian Sihombing di Galeri Antara, Selasa (15/1) malam. Foto-foto unpublished Julian Sihombing diterbitkan dalam sebuah buku.

Demotix | Late Photojournalist Julian Sihombing’s Photobook Launched

Berbeda dengan foto-fotonya di Split Second, Split Moment foto yang dipamerkan (dan dimuat di buku keduanya) terasa lebih personal. Berbeda rasa.

Read the rest of this entry »

Written by Alie Poedjakusuma

January 16, 2013 at 9:52 am

KR, ikon fotojurnalis Indonesia

leave a comment »

Arbain Rambey (@arbainrambey) pernah bercerita. Tahun 1994, seorang pewarta foto ‘tua’ ikut memotret pertandingan tenis di Senyan bersama rekan fotojurnalis lainnya. Beberapa diantaranya kasak-kusuk, siapa sebenarnya dia. Mereka tidak mengenali wajahnya karena belum pernah bertemu, tapi kenal nama tentunya. Mengutip sikap rendah hatinya, “kalau kamu tidak dikenal, akan enak memotret di tempat umum,” ujar Arbain; dialah Kartono Ryadi (KR/kr), ikon pewarta foto indonesia.

Terlahir sebagai Go Joe Kiat, 30 Juni 1945 di Pekalongan, Kartono kecil juga mengalami kehidupan layaknya bocah-bocah yang gemar bermain bola di sore hari. Karirnya dimulai dari majalah Express. Kompas baru ia masuki tahun 1971 dan dijalaninya hingga akhir hayat.

Jauh sebelum foto mendapat ruang tersendiri dalam penyampaian berita, ketika foto hanya ‘pelengkap’ berita, Kartono Ryadi telah bekerja sebagai pewarta foto.  Menyusuri jalanan ibukota dan berbagai belahan bumi mengabadikan momen-momen, banyak diantaranya bersejarah.

Salah satu prestasi KR yang belum dapat disamai pewarta foto indonesia saat ini adalah meraih anugerah World Press Photo dua kali; salah satunya untuk foto Pangeran Bendhard dari Belanda bersama seekor orang utan (1994). Ketika kamera masih serba sederhana, dan terbatas KR mampu melahirkan karya-karya kelas wahid.

Atok Sugiarto menceritakan perjalanan karier dan kehidupan pribadi KR dengan baik dalam autobiografi ini. Sayang, tajuk fotobiografi rasanya kurang terasa karena porsi foto tetap lebih sedikit.

Anda mengaku penikmat fotografi jurnalistik? atau berniat menjadi pewarta foto? Agaknya buku ini patut menjadi tambahan pengisi rak buku anda. @aliepodja

Written by Alie Poedjakusuma

October 21, 2011 at 10:57 pm