Photo story, Photography, Street Photography

Masih senang bermain?

Sewaktu kecil, saya tidak bermain sunda-manda (engklek). Sesekali bermain layangan, gobag sodor (yang konon di eropa sana bernama go-back-to-door), atau damdam-an.

Meski waktu bermain lebih banyak curi-curi karena seringkali harus tidur siang, kadang saya melompat keluar menyelinap dari jendela. Semua demi bermain bersama teman-teman.

Permainan-permainan tradisional yang dulu saya kenal, kini mungkin makin terlupakan; berganti playstation dan bermacam permainan digital lain.

Komunitas Anak Bawang, yang hampir selalu menggelar lapak tak jauh dari Loji Gandrung saat berlangsung hari bebas kendaraan bermotor (caf free day) di Jl Slamet Riyadi, kota Solo mungkin bisa menjadi oase bagi permainan tradisional.

Biarlah anak-anak kecil yang lalu-lalang di jalanan setiap minggu pagi melihat, penasaran, mencoba, dan bisa mengenangnya kelak dalam memori masa kecilnya. Sedikit banyak, seperti saya juga miliki. “Aku bermain, maka aku senang,” seru penggiat Komunitas Anak Bawang. @aliepodja

Advertisements
Standard
Demotix, Photography

Deru terompet tahun baru

Entah siapa yang memulai jualan terompet tahun baru; yang pasti seminggu menjelang perayaan tahun baru jalan-jalan selalu dipenuhi penjual terompet. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Sabtu (29/12) di jalanan kota Solo pun mulai menjamur penjual terompet.

Trumpet traders prepare their merchandise for New Year’s celebrations in Solo (29/12). Demotix / Alie Poedjakusuma

Demotix | New Year’s trumpet traders in Java

Tidak semua siap di pagi itu, saya menjumpai sekelompok penjual terompet dekat Stasiun Purwosari, kota Solo. Mereka sedang menyiapkan barang jualannya. Bermacam jenis terompet -tidak hanya terompet tradisional berbentuk kerucut- mereka jual. Beberapa yang menarik adalah terompet berbentuk macan dan naga.

Continue reading

Standard