Catatan Paruh Waktu | Alie Poedjakusuma

Bingkisan lebaran

leave a comment »

Tidak seperti kartu lebaran yang makin tenggelam di era digital dengan kehadiran surat elektronik, layanan pesan singkat, hingga layanan pesan antar-pengguna ponsel pintar, permintaan akan bingkisan (parsel) lebaran setiap tahun tidak surut.

Area Stasiun Cikini, Jakarta Pusat menjadi saksi kejayaan pedagang musiman bingkisan lebaran sejak tahun 1990-an. Wati, salah satu pedagang musiman yang sudah berdagang disana mengaku meski harga bingkisan merangkak naik setiap tahunnya namun pesanan tetap berdatangan; bahkan, lebih banyak daripada saat natal tiba.

Pedagang bingkisan lebaran di Cikini mulai berdagang setiap tahunnya di awal bulan Ramadan; dan baru menutup kios dadakannya H-3 menjelang hari raya idul fitri. Pedagang mengkreasikan bingkisan lebaran yang ditawarkan agar terlihat lebih menarik. Pemilihan warna-warna cerah, kombinasi makanan-perabot rumah tangga dan kaligrafi mempercantik dagangan yang mereka tawarkan.

Dijual mulai Rp 125 ribu hingga Rp 1,8 juta, pedagang mampu meraup untung yang lumayan sebagai bekal merayakan hari raya idul fitri bersama keluarga. Sebagian diantara mereka adalah pendatang dari Jawa Tengah dan Jawa Barat yang khusus datang berdagang bingkisan lebaran.

Meski jaman terus-menerus berubah; menuju masa depan yang dipenuhi teknologi digital, namun keberadaan bingkisan lebaran akan tetap bersaing dan meramaikan tradisi perayaan hari raya idul fitri di Indonesia. @aliepodja

Written by Alie Poedjakusuma

September 1, 2012 at 9:08 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: