Catatan Paruh Waktu | Alie Poedjakusuma

Eksodus tahunan

leave a comment »

Mudik; mudah saja diucapkan meski bagi sebagian besar orang butuh perjuangan berat melakukannya. Semacam kegiatan menginap dua malam di jalanan -yang biasanya dapat ditempuh setengah hari saja- atau berdesakan dalam lautan manusia demi selembar tiket dengan tujuan kampung halaman.

Tahun ini saya kembali bergabung dengan para pelaku eksodus tahunan. Ramadan belum berakhir ketika sebagian muslim negeri ini sudah mulai berpikir tentang baju baru-ketupat-opor ayam hingga ‘angpao’ idul fitri bagi keponakan.

Menempuh tujuan yang berbeda dari biasanya, kali ini saya memulai idul fitri pertama kami -me and my luvly wife @dyanhoed- dengan tujuan pulang ke pondok mertua indah.

Karena tidak mendapat tiket @PTKAI langsung ke Solo; saya pun menempuh jalur rel utara hingga kota lunpia, tempat kami dulu arungi berdua. Lalu melanjutkan perjalanan dengan moda transportasi ‘tradisional’: bus.

Saya tahu jalur pantai utara Jawa adalah momok ketika lebaran menjelang; menghindarinya adalah pilihan terbaik daripada menghabiskan tenaga lelah dan menginap di jalanannya yang tak kunjung mulus meski triliunan rupiah sudah dihisap.

Dan mudik memang perjuangan; eksodus tahunan yang akan disusul urbanisasi di akhir laganya. Dikarenakan, masih banyak yang menganggap rumput Jakarta lebih hijau. @aliepodja

Written by Alie Poedjakusuma

August 26, 2012 at 10:04 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: