Catatan Paruh Waktu | Alie Poedjakusuma

Foto VR360

leave a comment »

Selepas shalat maghrib saya bergegas menuju ke Oktagon di bilangan Senen. Kali ini oktagon adakan workshop tentang foto panorama, tajuknya workshop VR360 degree. Saia dapatkan infonya melalui @fotografernet tentunya. Pembicaranya baru kali ini saya ketemu, Reifa Istamar @reifa27, doi punya situs http://idvr360.com/ isinya tentu foto-foto panorama dan VR.

Foto panorama memang bukan barang baru, pun foto 360 derajat (apa ya disebutnya?), pertama kali saya lihat di sebuah situs yang memuat foto (interior maupun eksterior) masjid-masjid di dunia. Dari Al Haram di Makkah, Nabawi, sampe masjid-masjid di Turki. Nice

Seminggu sebelumnya, foto serupa juga saya lihat digunakan liputan ekspedisi cincin api Kompas. Intinya saya tertarik pake spesial telor. Pengisi workshop juga mampu bikin puluhan orang yang hadir mampu bertahan dari kantuk 2 jam! Awesome.

Berikut saya bagikan beberapa hal yang saya catat semalam. Awalnya ingin saya bagikan via live tweet, tapi sungguh sayang melewatkan materi untuk mengetik di gadget hehehe. Here are..

1. Foto panorama bisa diambil menggunakan kamera apapun. Mas Riefa bahkan pernah mempergunakan Nokia N70 untuk mengambil foto, hasilnya sama,. Perbedaan kualitas gambar saja tentunya.

2. Meskipun lebih baik memakai tripod, foto panorama pun dapat diambil dengan handheld saja. Tentu usahakan pegangan kita tetap stabil setiap kali kita mengambil gambar.

3. Selama ini, kita sering melihat, pada umumnya foto panorama mengambil format penyajian landskap. Tapi, format potrait pun dapat kita pergunakan, misalnya pada obyek tinggi seperti menara, mercusuar atau gedung bertingkat.

4. Untuk mendapatkan foto panorama yang baik, kita akan mengambil beberapa frame sekaligus, dengan format yang sama, dan setelan yang sama.

5. Ambillah foto dalam format RAW, jangan JPEG. Karena kita akan menyesuaikan masing-masing foto menjadi serupa.

6. Usahakan mempergunakan modus manual, termasuk setelan fokus pada lensa. Apabila terpaksa mempergunakan modus aperture (A/Av), gunakan teknik bracketing.

7. Gunakan bukaan besar (angka f kecil), biasanya f8-f11 sudah cukup.

8. Ambil ISO terendah saat memotret, namun sesuaikan dengan kondisi pada saat pemotretan juga

9. Untuk mengolah foto-foto menjadi foto VR, ada banyak perangkat lunak, umumnya memang berbayar, seharga 80-100 dolar, namun ada juga piranti lunak gratis.

10. Penggunaan lensa mata ikan (fish-eye) amat membantu karena menghemat jumlah foto yang harus kita ambil. Dengan 4 foto hasil pemotretan mempergunakan lensa fish-eye sudah dapat diproses menjadi foto VR.

Last but not least, foto VR mampu menghadirkan ‘suasana’ tersendiri, seolah kita berada di tempat yang ada di foto. Agak berbeda dengan video, foto VR menyajikan gambaran lokasi dengan baik, dan penikmatnya dapat melihat kemana ia mau, tentunya sebatas foto yang kita ambil.

Jujur, saya tidak sabar mencoba membuat foto VR, so saya berkirim e-mail pengisi workshop. We’ll see, do I can made a VR photos? @aliepodja

 

Written by Alie Poedjakusuma

June 14, 2011 at 10:51 pm

Posted in Photography

Tagged with , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: