Catatan Paruh Waktu | Alie Poedjakusuma

Kekuasaan tradisional

leave a comment »

Tidak hanya kekuasaan faktual macam bentuk demokrasi modern; kekuasaan tradisional pun melahirkan perebutan. Untuk sesuatu yang ‘kini kurang berarti’.

Di saat para elit politik berebut kue-kue kekuasaan yang makin lezat, raja-raja kecil Hangabehi dan Tedjowulan memperebutkan titel Pakubuwono XVIII. Keduanya memproklamirkan diri sebagai raja sesungguhnya; meski Tedjowulan berada di luar keraton; istana sang raja dan pusat pemerintahannya.

Seorang wanita melintas di depan pintu utama Keraton Surakarta Hadiningrat yang dijaga polisi terkait konflik internal antara Raja Hangabehi dan Tedjowulan.

Demotix | Police guard the Surakarta Hadiningrat Palace in Solo

‘Raja Solo’ sesungguhnya, Jokowi, walikota Solo yang tengah sibuk mencalonkan diri menjadi gubernur Jakarta pun turun tangan. Islah ditempuh kedua belah pihak, meski Tedjowulan mengalah menjadi Patih kerajaan itu.

Kue kekuasaan sepertinya terlalu sayang dibiarkan teronggok tak berdaya. Berbeda dengan Keraton Jogja yang masih memiliki ‘kekuasaan nyata’.Yang pasti, perebutan kekuasaan jangan sampai berakibat pada ketidakberdayaan para jelata. @aliepodja

About these ads

Written by Alie Poedjakusuma

May 28, 2012 at 9:04 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: